Banjir Tak Mampir di Jakarta

2016 adalah tahun pembuktian bagaimana program penangan banjir di DKI Jakarta berjalan. La nina datang di pertengahan tahun 2016 sampai 2017. Fenomena alam ini dimulai dari mendinginkan suhu permukaan lautan Pasifik Tengah dan Timur. Gejala itu mendorong peningkatan curah hujan di beberapa wilayah. 70 persen wilayah Indonesia mengalami dampak peningkatan curah hujan akibat la nina. Musim kemarau akhirnya menjadi sangat pendek. Fenomena ini kadang-kadang disebut juga sebagai kemarau basah.

Pada masa-masa seperti ini, daerah-daerah yang mengalami curah hujan yang tinggi dalam intensitas yang lama akan rentan banjir dan tanah longsor. Beberapa daerah telah dikabarkan mengalami banjir parah, seperti yang terjadi di Garut, Bandung, Bekasi, dan wilayah lain di Indonesia.

Daerah dengan tingkat kepadatan bangunan dan kontur tanah yang rendah seperti Jakarta sebetulnya sangat rentan mengalami banjir. Pada peristiwa musim hujan, apalagi la nina, di masa lalu, Jakarta selalu mengalami peristiwa banjir parah. Tahun ini, sekalipun Jakarta dilanda hujan hampir tiap hari, banjir dengan skala besar dan parah tidak banyak terdengar. Satu-satunya wilayah yang dikabarkan banjir parah hanya Kemang, Jakarta Selatan. Peristiwa ini dipicu oleh menyempitnya Kali Krukut yang melewati wilayah tersebut akibat pengurutan dan reklamasi sungai.

Walaupun Jakarta didera hujan bertubi-tubi, namun secara umum, Jakarta bisa dikatakan telah berhasil mengendalikan banjir. Walaupun beberapa wilayah terendam air pada saat hujan melanda, namun air tersebut surut hanya dalam tempo beberapa jam.

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya telah dilakukan pemerintah provinsi sehingga banjir tidak datang bahkan dalam situasi la nina sekalipun? Mengapa banjir seolah menghindar mampir di Jakarta? Dalam banyak kesempatan, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thahaya Purnama, acapkali menjelaskan tentang persoalan mendasar yang dialami oleh ibu kota dalam penanganan banjir. DKI Jakarta sesungguhnya adalah daerah sungai. Tiga belas sungai mengalir di Jakarta. Sebagian besar sungai tersebut mengalami perubahan fungsi. Sebelumnya, sungai-sungai di Jakarta adalah saluran dan daerah wisata air. Pelan-pelan sebagian besar aliran sungai tersebut berubah menjadi pemukiman dan tempat pembuangan sampah.

Untitled

Setidaknya ada empat persoalan utama yang dialami oleh sungai-sungai di Jakarta. Pertama, sistem aliran tidak terbangun dengan baik. Kedua, dinding sungai rawan longsor. Ketiga, terjadi pendangkalan sungai akibat sedimentasi dan sampah. Keempat, daerah aliran sungai (DAS) dijadikan area pemukiman.

Berdasarkan empat identifikasi masalah ini, terlihat bahwa persoalan pengendalian banjir di Jakarta terkait dengan banyak hal. Secara sederhana, ada tiga sudut piramida yang perlu disusun: pertama adalah normalisasi sungai. Normalisasi sungai tersebut menyangkut pelebaran aliran, pengerasan dinding sungai melalui pemasangan sheetpile dan batu kali, pembangunan sodetan, pembangunan tanggul baik menggunakan beton maupun timbunan tanah, dan pendalaman sungai melalui pengerukan.

Kedua, relokasi warga yang bermukim di atas daerah aliran sungai (DAS), ruang hijau, dan jalan inspeksi. Tanpa relokasi warga yang bermukim di atasnya, mustahil sungai bisa diperlebar, demikian pula dengan pembangunan jalan inspeksi. Karena itu, pembangunan rumah susun menjadi hal yang terinegrasi dengan normalisasi sungai. Sepanjang tahun 2013 sampai 2015, pemerintah provinsi DKI Jakarta sudah membangun sekitar 6500 unit rumah susun. Angka ini meningkat berkali-lipat bila dibanding dengan periode 2011 sampai 2012 di masa pemerintahan Fauzi Bowo. Dalam tiga tahun itu, pemerintahan Foke hanya mampu membangun 1000 unit rumah susun.

Ketiga, pembangunan ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau memiliki fungsi yang sangat strategis untuk menampung dan menyerap air hujan. Akar-akar pohon dan rumput yang menjalar kemana-mana di dalam tanah akan membuka ruang-ruang untuk menampung dan menyerap air yang dibutuhkan. Karena itu, maraknya pembangunan kembali taman dan penciptaan ruang terbuka hijau semacam RPTRA yang direncakana ada di setiap lingkungan adalah upaya nyata dan cerdas dalam menanggulangi banjir.

Kerja keras dan sistematis dalam program pengendalian banjir ini terbukti berhasil. Mari kita lihat satu indikator, yakni pengungsian akibat banjir. Tahun 2013, ada 1,250 tempat pengungsian dibangun dengan 1,426,478 pengungsi akibat banjir. Setahun setelahnya, 2014, angka itu merosot menjadi 609 tempat pengungsian dengan 526,353 jiwa pengungsi. Tahun 2015, tempat pengungsian yang teridentifikasi akibat banjir hanya 409 buah dengan jumlah pengungsi sebanyak 282,138 orang.

Ada sejumah pihak atau stakeholders yang terlibat, antara lain Satpol PP, Dinas Kebersihan, Dinas Tata Kota, Dinas Perumahan, dan aparat lainnya. Satu pihak yang perlu mendapat catatan khusus adalah Dinas Kebersihan yang membuat Pasukan Oranye dan Pasukan Biru. Yang pertama adalah mereka yang bergerak membersihkan sampah, yang kedua bergerak di air. Selain jumlah personel yang jumbo, yakni 15 ribu dan 20 ribu pasukan, tingkat kesejahteraan mereka juga dinaikkan. Gaji pasukan kebersihan di masa sebelumnya hanya berkisar 500 sampai 800 ribu rupiah per bulan. Saat ini, gaji bersih mereka adalah 3,1 juta rupiah yang ditransfer langsung ke rekening mereka. Selain gaji, anak-anak mereka juga gratis masuk sekolah melalui program KJP dan gratis pengobatan melalui program KJS. Selain itu, mereka juga dipriotitasnya masuk rumah susun yang artinya gratis menggunakan transportasi publik seperti bus Trans Jakarta.

Dengan berjalannya program penanggulangan banjir yang antara lain adalah normalisasi sungai, dalam jangka panjang sungai-sungai di Jakarta juga akan berfungsi sebagai daerah wisata air. Lebih jauh, sungai, waduk, situ, dan kali yang telah dinormalisasi juga akan menjadi bahan air baku untuk mengatasi krisis air bersih di ibu kota.

Pada intinya, program penanggulangan banjir yang dilakukan secara sistematis dan massif di DKI telah mengubah wajah ibu kota menjadi lebih beradab, adil, dan mempesona. Tapi kerja belum selesai, bahkan baru dimulai. Kesuksesan yang telah dirasakan langsung hari ini harus dipertahankan dan dilipatgandakan. Salam.

Sebelumnya dimuat di Jakarta Asoy, 29 November 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s