Gara-gara Ahok

Pada akhirnya semua yang sekarang terjadi ini adalah gara-gara Ahok.

Gara-gara Ahok menaikkan anggaran pendidikan untuk warga miskin, hampir tidak ada lagi warga DKI Jakarta yang putus sekolah. Siswa SD yang putus sekolah tahun 2015 tinggal 0,02%, SMP 0,12% dan SMA tinggal 0,41%. Para siswa dan siswi hampir tidak lagi punya alasan untuk putus sekolah. Dulu, mereka punya alasan putus sekolah karena tidak punya uang bayar SPP, uang pembangunan, tidak punya uang beli sepatu, baju seragam, atau buku dan alat tulis. Sekarang semuanya sudah bisa diperoleh secara cuma-cuma. Gara-gara Ahok, mereka kehilangan alasan untuk putus sekolah.

Ahok menaikkan anggaran pendidikan untuk orang miskin gila-gilaan. Tahun 2011, anggaran pendidikan untuk kaum papa hanya 31 milyar rupiah. Tahun 2016, anggara itu sudah 2,5 trilyun rupiah. Naiknya 79 kali lipat.

Gara-gara Ahok, semua warga DKI yang sakit tidak lagi punya alasan untuk tidak berobat ke rumah sakit dan bertemu dokter. Akses kesehatan gratis dibuka lebar melalui program Kartu Jakarta Sehat. Dulu sebetulnya program kesehatan gratis untuk kaum miskin sudah ada, tapi ribet sekali ngurusnya. Banyak sekali persyaratan administrasinya. Sampai-sampai pasien banyak yang memilih balik badan, bahkan meninggal, sebelum urusan administrasi selesai. Sekarang, cerita semacam itu tidak pernah lagi terdengar di Jakarta. Gara-gara Ahok, cerita dramatis pasien dipersulit berobat tidak ada lagi. Semua memiliki hak yang sama untuk sehat. Istilah ‘orang miskin dilarang sakit’ kini lenyap entah ke mana.

Gara-gara Ahok, sekarang semakin sulit menemukan pengemis atau peminta-minta di perempatan jalan. Apa yang terjadi? Rupanya Gubernur bermata sipit ini bekerja keras menekan angka pengangguran. Tahun 2011, setahun sebelum Jokowi dan Ahok terpilih pada Pilkada 2012, angka pengangguran terbuka di DKI mencapai 11,69%. Tahun ini, 2016, pengangguran terbuka tinggal 5,77%. Berkurang setengahnya. Angka pengangguran tahun 2016 ini adalah yang terendah dalam 20 tahun terakhir. Angka ini adalah yang terendah kedua setelah tahun 1993 dalam 30 tahun terakhir. Gubernur penyuka lagu dangdut ini tidak bisa dianggap enteng dalam memerangi kemiskinan. Gara-gara Ahok, paguyuban penganggur ibu kota kehilangan hampir setengah dari keseluruhan anggotanya.

Gara-gara Ahok, sebentar lagi perjalanan dari Lebak Bulus ke Bundaran Hotel Indonesia menjadi singkat. Dulu dan sekarang masih ditempuh 2 sampai tiga jam. Ahok sekarang membangun Mass Rapid Transit (MRT) yang akan menjadikan perjalanan Lebak Bulus – HI hanya 30 menit. Kalau koridor pertama ini selesai, akan dilanjutkan koridor kedua, dari HI ke Ancol. Lalu akan dibangun koridor ketiga, dari Bekasi ke Tangerang. Dia juga akan membangun rel kereta dari Stasiun Manggarai dan Stasiun Jakarta Kota ke Bandara. Armada bus trans-Jakarta ditambah berkali-lipat. Kualitasnya ditingkatkan. Dia juga bangun rute-rute baru ke stasiun kereta. Bus-bus trans-Jakarta juga menjangkau sampai ke kota-kota lain sekitar Jakarta. Ada bus khusus perempun. Warnanya pink. Ada juga trans-Jakarta khusus untuk kaum disabilitas. Macam-macam saja program Ahok untuk memperlancar perjalanan.

Gara-gara Ahok, warga bisa keliling-keliling kota dengan bus mewah, besar, dan bertingkat. Gratis pula. Haltenya ada di Monas, Istiqlal, dekat Stasiun Kota, dan di beberapa tempat lain. Tahun lalu jumlahnya baru 7 buah, tahun 2016 sudah 28 buah. Dalam satu tahun meningkat empat kali lipat. Ampun dah suami Ibu Vero ini. Dia tahu aja kalau kita jarang tamasya karena biaya. Sekarang dia sediakan tamasya mewah yang tak berbiaya.

Satu lagi ulah Ahok nih. Gara-gara dia, hampir tak terdengar ada berita banjir lagi di Jakarta. Padahal tahun ini sampai tahun depan hujan turun hampir tiap hari. Malah tempat lain yang posisinya tinggi seperti Bandung dan Garut yang banjir. Jakarta yang tanahnya rendah justru nyaris tak terdengar berita tentang banjir. Ada sih, tapi cepat banget surut. Apa yang terjadi? Rupanya Gubernur yang hobi makan pisang dan alergi bau rokok ini telah memperkuat dinding-dinding sungai dengan membangun sheetpile sepanjang 35 kilo meter. Dia juga sudah menormalisasi sungai di DKI sepanjang kurang lebih 30 kilo meter. Pasukan pembersih (oranye dan biru) banyak betul yang sudah dibentuk, sekitar 35 ribu orang. Gajinya standar UMP pula, 3,1 juta rupiah. Gaji itu ditransfer langsung ke rekening mereka.

Hampir tiap hari saya melewati Pintu Air Manggarai. Di situ dulu sampah menutupi sebagian besar permukaan sungai. Di atasnya ada macam-macam barang. Ada kasur, kursi, meja, sofa, dan macam-macam alat rumah tangga. Tapi sekatang semua itu lenyap dalam tempo yang singkat.

Gara-gara Ahok, banyak sekali yang berubah di Jakarta. Tentu belum semua beres, tapi beberapa tahun ke depan, kekumuhan dan persoalan ibu kota kita ini akan menjadi kenangan yang tersimpan di dalam ingatan.

Sebelumnya dimuat di Jakarta Asoy, 7 Desember 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s