Siapa Bermain di Isu Anti-Cina?

Sentimen Sinophobia (anti-Cina/Tionghoa) belakangan ini marak muncul di media sosial. Mulai dari isu masuknya jutaan pekerja asal Tiongkok. Ada pula pembicaraan bahwa sesungguhnya sebagian mereka adalah tentara. Gossip lain menyebut bahwa Indonesia akan menghapus rupiah dan menggantinya dengan mata uang Tiongkok, Yuan. Tanda-tanda ke arah itu, menurut gossip tersebut, mulai terlihat dari gambar di uang kertas terbaru yang dibayangkan mirip dengan palu dan arit.

Walaupun gossip dan issue itu satu persatu terbukti tidak berdasar, namun terus berhembus di masyarakat. Tidak sedikit yang termakan.

Apa yang sebetulnya terjadi? Apakah peredaran issue ini menggambarkan bangkitnya sentiment anti-Cina/Tionghoa di masyarakat? Saiful Mujani, pakar ilmu politik, menyatakan bahwa pada level masyarakat, tidak nampak gerakan sentiment anti-Cina yang signifikan. Dalam analisa berdasarkan data survei yang ia luncurkan dalam serial twit (25/12) di akun pribadinya, @saiful_mujani, dia menegaskan “Intoleransi pada warga Tionghoa dan Kristen ternyata relatif kecil, kalah jauh di survei terakhir 2016 oleh intoleransi pada ISIS.”

Pada gambar grafik hasil survei terbarunya (November 2016), pendiri Lembaga Survei Indonesia ini menunjukkan sentiment ketidaksukaan masyarakat Indonesia pada kelompok-kelompok tertentu. Kelompok teratas yang paling tidak disukai adalah Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Sebanyak 25% populasi menempatkan ISIS sebagai kelompok masyarakat yang paling tidak disukai. Jauh di bawah itu, yakni urutan ke-tujuh, Cina baru muncul sebagai kelompok masyarakat yang paling tidak disukai, itupun angkanya hanya 0,8 persen. Wahhabi (1,1 persen) dan FPI (1,6 persen) malah berada di atas Cina sebagai kelompok yang paling tidak disukai.

Pertanyaannya adalah kenapa isu Senophobia sekarang muncul di tengah sentiment anti-rasial yang tidak terlalu besar bahkan tidak mengalami perubahan berarti sejak Reformasi? Saiful Mujani menduga bahwa issue itu mengemuka karena digerakkan oleh aktor yang berkepentingan. Sentimen rasial itu bergerak karena ada mobilisasi. “I suspect hiruk pikuk anti-Kristen dan anti-Cina sekarang ini di antaranya lebih karena mobilisasi politik,” twit Mujani.

Pertanyaan lanjutannya adalah siapa yang mampu melakukan mobilisasi politik? Dalam studi gerakan sosial, sebuah gerakan tidak pernah muncul tiba-tiba. Ia membutuhkan setidaknya tiga prasyarat: framing, struktur kesempatan politik dan mobilisasi sumber daya. Anti rasial adalah framing yang coba dibangun dalam situasi politik tertentu yang memungkinkan. Namun semua itu tidak akan terjadi tanpa keterlibatan suatu kekuatan mobilisasi.

“Kalau gaduh intoleransi itu akarnya di mobilisasi politik, maka siapa yang punya kemampuan untuk mobilisasi? Itu sumber masalahnya,” kata Saiful. Lebih jauh, peraih penghargaan prestisius Franklin L. Burdette/Pi Sigma Alpha Award dari American Political Science As-sociation (APSA) ini menyatakan bahwa hanya elit, dan bukan rakyat biasa, yang punya kemampuan melakukan mobilisasi. “Elite, bukan rakyat biasa. Elite yg sedang kontestasi politik, dan agen atau resource mobilization organization,” tegasnya.

Penulis buku ‘Muslim Demokrat’ (2007) itu menutup serial twitnya dengan mengatakan “Elite politik dan agen mobilisasi itu nampaknya sumber kegaduhan intoleransi itu.”

Saiful Mujani memang tidak merinci dan mengeksplisitkan siapa yang sebenarnya melakukan mobilisasi anti-rasial belakangan ini. Namun dengan menggunakan paradigma bahwa sentiment ini digerakkan oleh elit yang memiliki kepentingan politik, maka mungkin cara terbaik melacaknya adalah pertama-tama mendefinisikan siapa atau kekuataan politik apa yang dirugikan oleh dimunculkannya sentiment anti-rasial itu.

Sejauh ini, yang paling dirugikan oleh issue anti-Cina tersebut adalah Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Seluruh persoalan yang dibayangkan ada itu dianggap berada di bawah tanggung-jawab Jokowi sebagai presiden. Apakah ini ada kaitannya dengan perebutan tahta Presiden tahun 2019? Sangat mungkin.

Sasaran kedua adalah Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok. Tokoh ini sedang maju sebagai petahana dalam Pilkada DKI Jakarta. Sejak awal kepemimpinannya di Jakarta, sentiment anti-rasial terus-menerus diterimanya. Tujuannya jelas, ingin menyingkirkannya dari kursi Gubernur Ibu Kota.

Dengan mendefinisikan kelompok sasaran sentiment, mungkin dari sana kita tinggal mencari kemungkinan lawan politik yang mana yang menggerakkan sentiment anti-rasial tersebut. Syarat elit tersebut ada dua: kepentingan dan kemampuan mobilisasi. Siapa tokoh atau kelompok tersebut? Belum ada data yang pasti.

SAIDIMAN AHMAD Sinophobia (anti-Cina/Tionghoa) belakangan ini marak muncul di media sosial. Mulai dari isu masuknya jutaan pekerja asal Tiongkok. Ada pula pembicaraan bahwa sesungguhnya sebagian mereka adalah tentara. Gossip lain menyebut bahwa Indonesia akan menghapus rupiah dan menggantinya dengan mata uang Tiongkok, Yuan. Tanda-tanda ke arah itu, menurut gossip tersebut, mulai terlihat dari gambar di uang kertas terbaru yang dibayangkan mirip dengan palu dan arit.

Walaupun gossip dan issue itu satu persatu terbukti tidak berdasar, namun terus berhembus di masyarakat. Tidak sedikit yang termakan issue tersebut.

Apa yang sebetulnya terjadi? Apakah peredaran issue ini menggambarkan bangkitnya sentiment anti-Cina/Tionghoa di masyarakat? Saiful Mujani, pakar ilmu politik, menyatakan bahwa pada level masyarakat, tidak nampak gerakan sentiment anti-Cina yang signifikan. Dalam analisa berdasarkan data survei yang ia luncurkan dalam serial twit (25/12) di akun pribadinya, @saiful_mujani, dia menegaskan “Intoleransi pada warga Tionghoa dan Kristen ternyata relatif kecil, kalah jauh di survei terakhir 2016 oleh intoleransi pada ISIS.”

Pada gambar grafik hasil survei terbarunya (November 2016), pendiri Lembaga Survei Indonesia ini menunjukkan sentiment ketidaksukaan masyarakat Indonesia pada kelompok-kelompok tertentu. Kelompok teratas yang paling tidak disukai adalah Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Sebanyak 25% populasi menempatkan ISIS sebagai kelompok masyarakat yang paling tidak disukai. Jauh di bawah itu, yakni urutan ke-tujuh, Cina baru muncul sebagai kelompok masyarakat yang paling tidak disukai, itupun angkanya hanya 0,8 persen. Wahhabi (1,1 persen) dan FPI (1,6 persen) malah berada di atas Cina sebagai kelompok yang paling tidak disukai.

Pertanyaannya adalah kenapa isu Senophobia sekarang muncul di tengah sentiment anti-rasial yang tidak terlalu besar bahkan tidak mengalami perubahan berarti sejak Reformasi? Saiful Mujani menduga bahwa issue itu mengemuka karena digerakkan oleh aktor yang berkepentingan. Sentimen rasial itu bergerak karena ada mobilisasi. “I suspect hiruk pikuk anti-Kristen dan anti-Cina sekarang ini di antaranya lebih karena mobilisasi politik,” twit Mujani.

Pertanyaan lanjutannya adalah siapa yang mampu melakukan mobilisasi politik? Dalam studi gerakan sosial, sebuah gerakan tidak pernah muncul tiba-tiba. Ia membutuhkan setidaknya tiga prasyarat: framing, struktur kesempatan politik dan mobilisasi sumber daya. Anti rasial adalah framing yang coba dibangun dalam situasi politik tertentu yang memungkinkan. Namun semua itu tidak akan terjadi tanpa keterlibatan suatu kekuatan mobilisasi.

“Kalau gaduh intoleransi itu akarnya di mobilisasi politik, maka siapa yang punya kemampuan untuk mobilisasi? Itu sumber masalahnya,” kata Saiful. Lebih jauh, peraih penghargaan prestisius Franklin L. Burdette/Pi Sigma Alpha Award dari American Political Science As-sociation (APSA) ini menyatakan bahwa hanya elit, dan bukan rakyat biasa, yang punya kemampuan melakukan mobilisasi. “Elite, bukan rakyat biasa. Elite yg sedang kontestasi politik, dan agen atau resource mobilization organization,” tegasnya.

Penulis buku ‘Muslim Demokrat’ (2007) itu menutup serial twitnya dengan mengatakan “Elite politik dan agen mobilisasi itu nampaknya sumber kegaduhan intoleransi itu.”

Saiful Mujani memang tidak merinci dan mengeksplisitkan siapa yang sebenarnya melakukan mobilisasi anti-rasial belakangan ini. Namun dengan menggunakan paradigma bahwa sentiment ini digerakkan oleh elit yang memiliki kepentingan politik, maka mungkin cara terbaik melacaknya adalah pertama-tama mendefinisikan siapa atau kekuataan politik apa yang dirugikan oleh dimunculkannya sentiment anti-rasial itu.

Sejauh ini, yang paling dirugikan oleh issue anti-Cina tersebut adalah Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Seluruh persoalan yang dibayangkan ada itu dianggap berada di bawah tanggung-jawab Jokowi sebagai presiden. Apakah ini ada kaitannya dengan perebutan tahta Presiden tahun 2019? Sangat mungkin.

Sasaran kedua adalah Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok. Tokoh ini sedang maju sebagai petahana dalam Pilkada DKI Jakarta. Sejak awal kepemimpinannya di Jakarta, sentiment anti-rasial terus-menerus diterimanya. Tujuannya jelas, ingin menyingkirkannya dari kursi Gubernur Ibu Kota.

Dengan mendefinisikan kelompok sasaran sentiment, dari sana kita tinggal mencari kemungkinan lawan politik yang mana yang menggerakkan sentiment anti-rasial tersebut. Syarat elit tersebut ada dua: kepentingan dan kemampuan mobilisasi. Siapa tokoh atau kelompok tersebut? Masih sebatas dugaan. Belum ada data yang pasti.

Sebelumnya dimuat di Jakarta Asoy, 27 Desember 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s