Publik DKI Menilai Relokasi Mensejahterakan Warga Miskin

Salah satu isu yang dipakai para penantang Ahok-Djarot dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 adalah soal relokasi. Agus Yudhoyono menyatakan bahwa relokasi bukan satu-satunya solusi. Dalam sebuah kesempatan, dia bahkan menyebut bahwa ada banyak kota yang dibangun dengan sistem terapung.

Sementara Anies Baswedan berkali-kali menegaskan penolakannya pada relokasi. Dalam debat pertama, 13 Januari 2017, Anies menyebut soal komitmen untuk tidak melakukan relokasi warga seperti yang terjadi di era gubernur DKI Jakarta periode ini.

Yang menarik adalah bahwa meskipun dijadikan senjata oleh pihak penantang untuk menyerang petahana, isu relokasi di tengah masyarakat ternyata tidak negatif. Dalam survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis 25 Januari 2017, mayoritas warga DKI justru memandang program relokasi adalah bentuk upaya gubernur mensejahterakan warga miskin. 56 persen publik DKI menilai relokasi adalah upaya Gubernur mensejahterakan warga miskin. Angka ini naik 2 persen dari survei yang diselenggarakan sebulan sebelumnya.

Sementara yang menyatakan bahwa relokasi adalah bentuk ketidak-pedulian gubernur pada warga miskin hanya 33 persen. Angka ini turun dari 34 persen pada survei bulan sebelumnya.

Dilihat dari angka-angka hasil survei yang dilakukan secara ilmiah ini, upaya penantang Ahok membawa isu ini ke publik sama artinya dengan menantang opini umum masyarakat Jakarta. Dengan kata lain, upaya mereka kemungkinan besar justru akan berbalik meneguhkan superioritas petahana atas lawan-lawannya dalam hal penyaluran aspirasi umumnya warga DKI.

Kesimpulan lain yang bisa diambil adalah bahwa para penantang Ahok nampaknya keliru atau salah dalam mempersepsi pendapat publik. Artinya, mereka nampak kurang mendalami perubahan-perubahan sosial-ekonomi yang terjadi paska program relokasi di beberapa titik pemukiman paling kumuh di DKI Jakarta. Perubahan-perubahan itu tidak hanya terjadi pada warga yang direlokasi, tapi juga warga sekitar yang menerima manfaat berupa berkurangnya banjir dan bertambahnya fasilitas umum seperti jalan dan taman.

Bagi kelompok yang direlokasi, mereka menerima manfaat langsung berupa berubahnya lingkungan kumuh dan tempat tinggal tidak layak menjadi lebih layak. Ada taman-taman, ruang rumah yang lapang, fasilitas sekolah, kesehatan, bus transjakarta, bus sekolah, pelatihan wirausaha, sentra bisnis, dan sejumlah peluang hidup lain yang tiba-tiba ada di hadapan. Dan yang paling penting, tentu saja, sekarang mereka bisa hidup lebih tenang dan tidak perlu setiap saat was-was dengan ancaman banjir. Tugas mereka satu-satunya adalah memanfaatkan segala peluang itu untuk menata masa depan yang lebih baik.

Dari sisi warga DKI yang tidak direlokasi, mereka juga menerima manfaat langsung berupa berkurangnya banjir. Ketika fenomena la nina terjadi, hampir tidak ada lagi berita banjir Jakarta atau setidak-tidaknya tidak terdengar lagi berita mengenai pengungsi massif di ibu kota karena banjir. Tahun 2013, ada sekitar 1,5 juta warga DKI yang mengungsi karena banjir sepanjang tahun. Tahun 2014, angka itu menurun sangat tajam menjadi 526 ribu orang. Tahun 2015 sudah tinggal 282 ribu orang.

Tentu saja banjir masih ada, tapi sudah jauh berkurang. Dalam pelbagai kesempatan, Ahok menyatakan bahwa masih ada 400 titik banjir yang belum teratasi sepenuhnya, dari sekitar 2500 titik banjir sebelumnya. Tentu saja banjir masih ada, tapi sudah sangat minim bahkan berlangsung sangat singkat.

Dalam survei Indikator Politik yang baru dirilis itu juga dilacak persepsi publik DKI tentang banjir. Ditanya mengenai apakah di lingkungan pernah mengalami banjir, 62 persen menyatakan tidak pernah, yang menyatakan kadang-kadang 30 persen, dan yang menyatakan selalu hanya 8 persen. Ketika ditanya bagaimana penilaian warga terhadap banjir di DKI Jakarta dalam setahun terakhir, 68 persen menyatakan semakin atau jauh lebih berkurang. Lebih jauh, 77 persen warga DKI menyatakan puas atau sangat puas dengan kinerja Pemprov DKI dalam upaya pencegahan dan penanggulangan banjir.

Informasi mengenai banjir yang berkurang drastis di tengah hujan yang turun hampir tiap hari itu kemungkinan besar tidak berasal dari berita atau materi kampanye apapun. Pengetahuan ini datang dari pengalaman dan pengamatan pribadi warga sendiri. Mereka sendiri yang pernah jadi korban mengungsi karena rumahnya tenggelam oleh air yang datang tiba-tiba di malam buta. Dan kini mereka bisa tidur lelap sentosa di tengah hujan sederas apapun. Dan mereka tahu siapa yang telah berbuat baik mencegah banjir itu datang kembali.

Tentu saja dua pasangan penantang Ahok-Djarot memiliki kesempatan untuk membangun opini bahwa relokasi adalah sesuatu yang keliru. Bisa saja itu dilakukan, misalnya, dengan cara kampanye massif dan pertemuan umum. Tapi mereka akan menghadapi tembok tebal berupa pengetahuan warga yang diperoleh dari pengalaman langsung.

Dimuat Jakarta Asoy, 26 Januari 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s