Penyimpangan Daeng Tata

Akhirnya kami ada di sana. Duduk di meja itu. Memesan dua mangkuk sop konro.

Petang itu saya dan Anton, seorang konsultan politik, mendatangi Tebet untuk sesuatu yang tidak perlu saya ceritakan di sini. Sempat terjadi perdebatan hangat sebelum akhirnya dia menyerah dan mengikuti saran saya untuk mampir ke restoran Mamink Daeng Tata. Dia memang memperingatkan bahwa restoran itu tidak lagi semenarik dulu.

Maka datanglah pesanan itu. Continue reading “Penyimpangan Daeng Tata”

Rekening Ahok di Rumah Susun

Vokalis band Nidji, Giring Ganesha, mendapati seorang langsia penghuni rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Jatinegara Barat yang tidak mampu membayar sewa. “Tapi tebak siapa yang membayarin? Uang pribadinya Ahok.,” kata Giring.

Rusunawa ditujukan untuk memenuhi kebutuhan perumahan kelompok masyarakat lapisan paling rentan di Jakarta. Kelompok paling rentan itu antara lain warga yang selama ini tinggal di atas bantaran sungai, danau, pasar, samping rel atau kolom-kolom jembatan. Selain mereka tinggal di atas lokasi yang tidak diperuntukkan sebagai tempat tinggal, mereka juga adalah kelompok warga yang paling miskin.

Namun begitu, rumah-rumah susun tersebut tidak diberikan secara gratis. Ada sewa sekitar 10 ribu rupiah per-hari atau 300 ribu rupiah per-bulan. Perihal sewa inilah yang sering menjadi sasaran kritik. Continue reading “Rekening Ahok di Rumah Susun”

Giring Terharu Melihat Rumah Susun

Giring Ganesha, personil group band Nidji, tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada konsep rumah susun. Siang tadi ia mengunjungi rumah susun Jatinegara Barat. Rumah susun ini menampung warga yang sebelumnya direlokasi dari bantaran sungai di Kampung Pulo.

Pada mulanya, Giring mengaku skeptis dengan program rumah susun. Selama ini, sejumlah orang menyatakan bahwa rumah susun tidak dikelola dengan baik dan cenderung menyengsarakan penghuninya. Kenyataannya berbeda dengan anggapan negative selama ini.

“Aku ke sana karena mau melihat langsung. Tadinya kirain aku bakal marah sama pemerintah, ternyata malah terharu,” ucap penyanyi Laskar Pelangi itu. Continue reading “Giring Terharu Melihat Rumah Susun”

Siapa Bermain di Isu Anti-Cina?

Sentimen Sinophobia (anti-Cina/Tionghoa) belakangan ini marak muncul di media sosial. Mulai dari isu masuknya jutaan pekerja asal Tiongkok. Ada pula pembicaraan bahwa sesungguhnya sebagian mereka adalah tentara. Gossip lain menyebut bahwa Indonesia akan menghapus rupiah dan menggantinya dengan mata uang Tiongkok, Yuan. Tanda-tanda ke arah itu, menurut gossip tersebut, mulai terlihat dari gambar di uang kertas terbaru yang dibayangkan mirip dengan palu dan arit.

Walaupun gossip dan issue itu satu persatu terbukti tidak berdasar, namun terus berhembus di masyarakat. Tidak sedikit yang termakan. Continue reading “Siapa Bermain di Isu Anti-Cina?”

Mengapa Program 1 M Setiap RW Ditolak

Salah satu program utama yang dikampanyekan secara massif oleh pasangan Agus-Sylvi pada Pilkada Jakarta kali ini adalah tentang rencana bagi-bagi uang negara 1 milyar untuk tiap RW tiap tahun. Rencana ini menjadi bahan perbincangan publik belakangan ini.

Pertanyaan yang muncul antara lain adalah apakah kebijakan cash transfer semacam itu akan membawa dampak perubahan perilaku pada publik penerima program? Kebijakan sosial model transfer langsung banyak dihindari terutama karena kebijakan semacam itu dinilai tidak mendidikan atau setidak-tidaknya tidak memiliki daya dorong pada perubahan perilaku. Continue reading “Mengapa Program 1 M Setiap RW Ditolak”

75% Warga DKI Puas dengan Kinerja Ahok

75 persen warga DKI Jakarta mengaku puas dengan kinerja petahana Basuki Thahaya Purnama membangun Jakarta. Angka ini diperoleh dari hasil survei opini publik yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (Saiful Mujani) yang dipresentasikan siang ini di Jakarta.

Approval rating atau tingkat kepuasan publik ini meningkat cukup tajam dari hasil survei satu bulan sebelumnya, 69 persen. Sementara yang tidak atau kurang puas hanya sekitar 24 persen. Dengan ungkapan yang lain, dari 10 orang di DKI Jakarta, 7 sampai 8 orang di antaranya puas dengan kinerja Ahok sejauh ini. Continue reading “75% Warga DKI Puas dengan Kinerja Ahok”

Tangis Ahok

Dalam persidangan tadi, Ahok menangis karena dituduh menista Kitab Suci dan agama Islam. Menurut Ahok, itu sama saja dengan tuduhan bahwa dia menghina kitab suci dan agama orang tua angkat dan saudara angkat yang sangat ia sayanyi dan menyayangi dirinya.

Ahok adalah anak angkat Andi Baso Amir, mantan Bupati Bone, yang sekaligus adik kandung Alm. Jenderal TNI M. Yusuf. Jend. M. Yusuf sendiri adalah tokoh yang sangat dihormati di Sulawesi Selatan. Namanya diabadikan sebagai nama masjid termegah se-Asia Tenggara, Al-Markaz Al-Islami Makassar. Continue reading “Tangis Ahok”

Gara-gara Ahok

Pada akhirnya semua yang sekarang terjadi ini adalah gara-gara Ahok.

Gara-gara Ahok menaikkan anggaran pendidikan untuk warga miskin, hampir tidak ada lagi warga DKI Jakarta yang putus sekolah. Siswa SD yang putus sekolah tahun 2015 tinggal 0,02%, SMP 0,12% dan SMA tinggal 0,41%. Para siswa dan siswi hampir tidak lagi punya alasan untuk putus sekolah. Dulu, mereka punya alasan putus sekolah karena tidak punya uang bayar SPP, uang pembangunan, tidak punya uang beli sepatu, baju seragam, atau buku dan alat tulis. Sekarang semuanya sudah bisa diperoleh secara cuma-cuma. Gara-gara Ahok, mereka kehilangan alasan untuk putus sekolah.

Ahok menaikkan anggaran pendidikan untuk orang miskin gila-gilaan. Tahun 2011, anggaran pendidikan untuk kaum papa hanya 31 milyar rupiah. Tahun 2016, anggara itu sudah 2,5 trilyun rupiah. Naiknya 79 kali lipat. Continue reading “Gara-gara Ahok”

Banjir Tak Mampir di Jakarta

2016 adalah tahun pembuktian bagaimana program penangan banjir di DKI Jakarta berjalan. La nina datang di pertengahan tahun 2016 sampai 2017. Fenomena alam ini dimulai dari mendinginkan suhu permukaan lautan Pasifik Tengah dan Timur. Gejala itu mendorong peningkatan curah hujan di beberapa wilayah. 70 persen wilayah Indonesia mengalami dampak peningkatan curah hujan akibat la nina. Musim kemarau akhirnya menjadi sangat pendek. Fenomena ini kadang-kadang disebut juga sebagai kemarau basah.

Pada masa-masa seperti ini, daerah-daerah yang mengalami curah hujan yang tinggi dalam intensitas yang lama akan rentan banjir dan tanah longsor. Beberapa daerah telah dikabarkan mengalami banjir parah, seperti yang terjadi di Garut, Bandung, Bekasi, dan wilayah lain di Indonesia. Continue reading “Banjir Tak Mampir di Jakarta”

Pengangguran Hampir Hilang di Jakarta

Kalau anda biasa berkeliling Jakarta, anda akan menemukan sesuatu yang berubah. Dulu di setiap perempatan jalan, banyak sekali pengemis atau peminta-minta. Beberapa tahun terakhir, warga yang melakukan aktifitas itu di DKI Jakarta semakin sulit ditemukan. Rupanya profesi sebagai pengemis dan peminta-minta semakin tidak diminati oleh warga ibu kota. Apa yang terjadi?

Secara makro memang sedang terjadi perubahan besar-besaran di DKI Jakarta. Badan Pusat Statistik menemukan bahwa di DKI Jakarta, pengangguran terkikis signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2016 mencatatkan rekor terendah pengangguran terbuka dalam 20 tahun terakhir. Jika dilihat dari tahun 1986 (sebagaimana data yang ada di BPS) atau dalam 30 tahun, maka angka pengangguran terbuka tahun ini adalah yang terendah setelah tahun 1993. Continue reading “Pengangguran Hampir Hilang di Jakarta”